Minggu, 08 Februari 2009

Bagaimana Sampah Dibuang?

  • Sampah yang dihasilkan oleh PKL dikumpulkan oleh masing-masing PKL, kemudian ada yang dibawa pulang untuk dibuang di rumah, dan ada pula yang diberikan kepada pengusaha ternak babi sebagai pakan babi.
  • Sampah dikumpulkan hanya dengan tempat plastik seadanya sehingga sering berceceran dan tampak tidak rapi.
  • Sebenarnya para PKL pernah membayar iuran masing-masing 500 rupiah untuk membayar orang yang khusus mengumpulkan sampah, tetapi tidak diketahui apakah program tersebut masih berjalan atau tidak. Masih ada PKL yang keberatan atau tidak rutin membayar iuran. Lagipula, dalam proses pengumpulan sampah tersebut, sampah organik dan nonorganik masih saja dicampur dan belum dipilah-pilah.
Gambar di atas diambil dari salah satu PKL yang mangkal di sebelah barat kampus FK UGM Yogyakarta. Tampak sampah dimasukkan ke dalam tas plastik hitam. Karena tempat sampah yang seadanya tersebut, sampah menjadi berceceran dan tampak tidak rapi.
Kesimpulan:
Masih belum adanya kesadaran masyarakat PKL untuk mengelola sampah secara terpadu yang diprakarsai oleh masyarakat itu sendiri. Masyarakat PKL masih belum tahu manfaat mengelola sampah sebelum dikumpulkan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengetahuan masyarakat PKL tentang pengelolaan sampah masih berupa pengumpulan dan pembuangan tanpa ada proses pemilahan antara sampah organik dan nonorganik.
Rekomendasi:
Perlu adanya proses sosialisasi dan penyadaran masyarakat PKL akan pentingnya pengelolaan sampah sebelum dikumpulkan untuk dibuang di tempat pembuagan akhir. Perlu ada yang menggerakkan masyarakat PKL untuk mengelola sampah masing-masing secara bekesinambungan. Sehingga, kegiatan pengelolaan sampah dengan berbasis masyarakat PKL dapat terwujud dan dapat bertahan untuk seterusnya karena ada pastisipasi aktif dari bawah ke atas, tidak melulu mengandalkan kebijakan pemerintah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar