Senin, 09 Februari 2009

Masyarakat dan Premanisme

Bagaimanakah Masyarakat Kita Memandang Preman?

> Preman sering dianggap sebagai sampah masyarakat
> Kelakuan preman seringkali meresahkan masyarakat
> Preman juga merupakan bagian dari masyarakat



            Gambar di atas merupakan salah satu gerakan masyarakat untuk melawan premanisme. Gambar di atas menunjukkan betapa premanisme merupakan musuh bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk wartawan. Gerakan untuk memberantas premanisme tidak hanya dilakukan wartawan saja, melainkan oleh seluruh lapisan masyarakat. Oleh sebagian besar masyarakat, preman dianggap sebagai kaum marginal yang tidak berguna dan hanya menimbulkan gangguan saja, namun harus diakui bahwa preman juga merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri, dan tanpa disadari, masyarakat itu juga mencetak preman – preman.
             Keadaan dalam masyarakat yang tidak teratur mempermudah munculnya preman, begitu juga dengan kesadaran masyarakat untuk mentaati hukum – hukum normative di Indonesia yang ada. Kesemrawutan yang ada, ditambah dengan kesulitan ekonomi, menjadi medium yang optimal bagi tumbuhnya premanisme. Sebagian besar orang hanya bisa menilai negatif keberadaan preman, tanpa menyadari bahwa seringkali budaya permissive kitalah yang memperbolehkan keberadaan preman. Seringkali kita memandang rendah preman, tapi di saat yang sama takut pada mereka, menganggap mereka kaum marginal, namun pada saat yang sama menyetor uang keamanan pada mereka, menganggap mereka sampah masyarakat yang harus disingkirkan, namun di saat yang sama kita juga melanggar aturan-aturan normative yang ada sehingga kita membutuhkan jasa preman untuk menjaga keamanan kita, Ironis.
Kesimpulan : Masyarakat kita adalah masyarakat yang munafik, memperlihatkan ketidakberdayaan terhadap tekanan keberadaan preman, namun menyuburkan keberadaan mereka disaat yang bersamaan. Preman tidak akan bertumbuh subur apabila masyarakat tidak mengijinkannya.
Rekomendasi : Untuk kita semua, sebelum kita menuding ke arah hidung para preman, lihatlah dulu diri kita sendiri, apakah kita termasuk bagian masyarakat permisif yang meyuburkan premanisme.(ANT)

Minggu, 08 Februari 2009

Mampukah Kuliner Kaki Lima Menjadi Bagian Pariwisata Indonesia?

  • Indonesia merupakan salah satu objek wisata yang sangat potensial baik secara lokal maupun mancanegara.
  • Objek wisata yang ditawarkan bermacam-macam, antara lain : wisata alam, bangunan bersejarah, kebudayaan daerah, dan makanan khas setempat (wisata kuliner). Makanan khas setempat dapat tersedia baik di rumah makan ataupun di tempat makan kaki lima
  • Traveler’s diarrhea merupakan suatu infeksi saluran pencernaan pada turis mancanegara yang diakibatkan kurangnya higienitas dalam penyiapan makanan.
  • Makanan kaki lima memiliki kecenderungan yang lebih besar dibandingkan rumah makan untuk menimbulkan traveler’s diarrhea pada turis mancanegara.
  • Turis sebagai konsumen akan merugi dalam banyak hal :
  1. Waktu yang seharusnya dapat dipergunakan untuk berwisata justu dihabiskan untuk istirahat.
  2. Uang : Mereka harus menghamburkan uang untuk pengobatan yang bisa jadi sangat mahal karena tidak adanya asuransi kesehatan.
  • Hal tersebut dapat mengurangi kesan para turis terhadap objek wisata indonesia yang notabene mencengangkan dunia.

Gambar di atas menunjukkan seorang warga negara Malaysia yang sedang makan di sebuah tempat makan kaki lima di Jalan Kaliurang. Bahaya diare mengancam orang ini mengingat kebersihan tempat yang kurang. Traveler’s diarrhea pada orang ini nantinya akan dipengaruhi banyak faktor, antara lain : kebersihan makanan, status imun, dan penggunaan antibiotik profilaksis.

Kesimpulan :
Kuliner kaki lima dapat dijadikan salah satu objek wisata selama kebersihannya terjamin sehingga angka kejadian traveler’s diarrhea rendah.

Rekomendasi :
Perlunya kerjasama pemerintah kota dengan bagian pariwisata setempat untuk mengembangkan kuliner kaki lima menjadi suatu objek wisata yang terjamin kebersihannya.

Bagaimana Sampah Dibuang?

  • Sampah yang dihasilkan oleh PKL dikumpulkan oleh masing-masing PKL, kemudian ada yang dibawa pulang untuk dibuang di rumah, dan ada pula yang diberikan kepada pengusaha ternak babi sebagai pakan babi.
  • Sampah dikumpulkan hanya dengan tempat plastik seadanya sehingga sering berceceran dan tampak tidak rapi.
  • Sebenarnya para PKL pernah membayar iuran masing-masing 500 rupiah untuk membayar orang yang khusus mengumpulkan sampah, tetapi tidak diketahui apakah program tersebut masih berjalan atau tidak. Masih ada PKL yang keberatan atau tidak rutin membayar iuran. Lagipula, dalam proses pengumpulan sampah tersebut, sampah organik dan nonorganik masih saja dicampur dan belum dipilah-pilah.
Gambar di atas diambil dari salah satu PKL yang mangkal di sebelah barat kampus FK UGM Yogyakarta. Tampak sampah dimasukkan ke dalam tas plastik hitam. Karena tempat sampah yang seadanya tersebut, sampah menjadi berceceran dan tampak tidak rapi.
Kesimpulan:
Masih belum adanya kesadaran masyarakat PKL untuk mengelola sampah secara terpadu yang diprakarsai oleh masyarakat itu sendiri. Masyarakat PKL masih belum tahu manfaat mengelola sampah sebelum dikumpulkan dan dibuang ke tempat pembuangan akhir. Pengetahuan masyarakat PKL tentang pengelolaan sampah masih berupa pengumpulan dan pembuangan tanpa ada proses pemilahan antara sampah organik dan nonorganik.
Rekomendasi:
Perlu adanya proses sosialisasi dan penyadaran masyarakat PKL akan pentingnya pengelolaan sampah sebelum dikumpulkan untuk dibuang di tempat pembuagan akhir. Perlu ada yang menggerakkan masyarakat PKL untuk mengelola sampah masing-masing secara bekesinambungan. Sehingga, kegiatan pengelolaan sampah dengan berbasis masyarakat PKL dapat terwujud dan dapat bertahan untuk seterusnya karena ada pastisipasi aktif dari bawah ke atas, tidak melulu mengandalkan kebijakan pemerintah.

Sudahkah PKL menerapkan standar kebersihan??

  • Akhir-akhir ini terjadi wabah penyakit Hepatitis A pada para mahasiswa UGM
  • Wabah ini biasa menular melalui makanan yg terkontaminasi akibat penanganan yang tidak baik

Gambar ini merupakan contoh standar bagaimana PKL mencuci alat-alat makan setelah digunakan. Dalam mencuci alat-alat makan, PKL hanya menggunakan 2 buah ember (warna hitam) dan berdekatan dengan tempat sampah. Tampak juga sumber air bersih yang hanya berjumlah terbatas.

Kesimpulan:
  • Penanganan alat-alat makan yang dilakukan oleh PKL kurang memenuhi standar kesehatan dan rentan terhadap penularan penyakit
  • Perlu dilakukan sosialisasi tentang cara pembersihan alat-alat makan yang baik, sehingga dapat mencegah terjadinya penularan penyakit

Rekomendasi:
  • Perlunya dilakukan standarisasi baku tentang cara-cara pembersihan alat-alat makan dan penggunaan air bersih.
  • Perlu dilakukan disediakan sumber air bersih yang dekat dengan area berjualan PKL.
  • Perlu dilakukan relokasi ke tempat yang memadai dengan fasilitas yg memadai seperti kamar mandi, sumber air bersih, tempat cuci piring, sehingga dapat meningkatkan standar kebersihan dan kesehatan makanan.

Sabtu, 07 Februari 2009

Pasyekepapap preman preman part 2

Mengapa Seorang Preman Memilih Jadi Preman?

· Secara hakihatnya, manusia adalah makhluk sosial sekaligus individual
· Faktor ekonomi sering menjadi alasan utama munculnya premanisme
· Rendahnya modal (baik materiil maupun non materiil) yang dimiliki angkatan kerja Indonesia memicu meningkatnya angka kriminalitas secara umum




Gambar di atas mengilustrasikan aksi preman yang sedang mengambil pungli (pungutan liar), preman menggantungkan hidupnya dari hasil kerja orang lain dan mengambil uang yang bukan haknya. Premanisme dijadikan jalan keluar oleh sebagian orang untuk mengatasi himpitan ekonomi, kriminalitas memang berhubungan erat dengan angka penggangguran. Berdasarkan data Biro Pusat Statistik, periode 1980-1993, tingkat pengangguran laki-laki usia muda di perkotaan meningkat di atas 8 persen. Dalam periode 1994-2000, angka ini meningkat 15 persen. Apabila diperhatikan menurut sektor ekonomi, pada periode 1990-20, penyerapan tenaga kerja usia muda di sektor primer (umumnya pertanian) dan tersier menurun dengan laju rata-rata 3,5 persen dan 0,9 persen per tahun. Pada periode yang sama, penyerapan tenaga kerja di sektor sekunder hanya meningkat dengan laju sebesar 2,7 persen per tahun. Fakta-fakta di atas menggambarkan pertumbuhan lapangan kerja yang dapat diciptakan sangat tidak sebanding dengan pertumbuhan angkatan kerja. Khususnya di perkotaan, angkatan kerja usia muda (AKUM) bertambah sangat pesat rata-rata 9 persen (laki-laki) dan 15 persen (perempuan) per tahun.
Secara teori psikologis, ada 2 faktor yang dapat memotivasi seseorang memilih untuk menjadi preman, yaitu faktor eksternal, dan internal. Faktor eksternalnya adalah tekanan lingkungan, semakin tingginya biaya hidup, sempitnya lapangan kerja, tuntutan keluarga dan lingkungan yang membutuhkan kesejahteraan
Sementara, faktor internal contohnya adalah naluri dasar manusia untuk survive, jika kita hubungkan, maka akan nampak hubungan yang jelas kompleksitas motivasi yang dapat mendorong seseorang menjadi preman dan meningkatkan angka kriminalitas. Menurunnya jumlah angkatan kerja yang dapat diserap oleh perekonomian negara kita menyebabkan tingginya jumlah orang yang di-PHK, belum lagi ditambah dengan angkatan kerja yang sejak awal memang tidak dapat diserap sepenuhnya, melemahnya kondisi perekonomian juga meningkakan biaya hidup yang harus ditanggung oleh masyarakat, meningkatnya biaya hidup itu juga mempersulit masyarakat untuk membekali diri dengan ilmu maupun ketrampilan yang dibutuhkan agar bisa survive, sementara dari dalam diri,ada naluri untuk bertahan hidup dan berusaha mendapatkan kemapanan financial, kadang kala, alasan – alasan internal dan eksternal ini mendorong manusia lebih kuat ketimbang pemahaman dasar manusia untuk menghormati hak orang lain. Namun merupakan suatu hal yang amat manusiawi bahwa setiap orang menginginkan untuk mendapatkan hasil yang sebanyak-banyaknya dengan usaha yang sekecil-kecilnya, akhirnya semua ini bermuara dengan pilihan akhir yang jatuh pada kriminalitas sebagai jalan pintas untuk mengatasi kesulitan hidup.
Kesimpulan : Terdapat alasan dan motivasi akan segala macam tindakan yang kita ambil, termasuk memilih kriminalitas sebagai jalan pintas untuk mengatasi segala macam kesulitan hidup.

Jumat, 06 Februari 2009

Ternyata, masih ada yang berperan menjaga sanitasi...

Manusia memang diciptakan berbeda-beda. Berbeda rupanya, sifatnya, tingkah dan perilakunya, serta berbeda pula kebiasaannya. Sama halnya dengan para pedagang makanan jalanan, tidak semua pedagang itu sama, hakikat yang ada di diri mereka itulah yang menunjukkan diri mereka sebenarnya.
Perilaku yang dimaksud contohnya adalah perilaku yang menyangkut dengan kebersihan. Semua orang pasti tahu, bahwa kebersihan itu tidak tercipta dengan sendirinya, perlu perbuatan untuk menciptakan kebersihan itu sendiri diantaranya dengan menyapu, mengepel, dan membuang sampah di tempatnya. Perbuatan itu pun sebaiknya kita praktikkan dimana saja kita berada baik di lingkungan rumah kita, kantor, tempat ibadah, dan juga sekitar tempat kita berada saat ini. Mulai dari yang kecil, mulai sekarang dan yang terpenting adalah mulai dari diri sendiri. Memang demikian faktanya bahwa jika kita membiasakan hidup dengan menjaga kebersihan maka yang diuntungkan bukan diri kita saja namun lingkungan dan orang lain pun akan menikmati hasilnya.
Peran dari para pedagang makanan jalanan dalam kebersihan pun hendaknya diperhatikan khususnya dalam hal bagaimana peribahasa "kebersihan adalah pangkal kesehatan" dapat menjadi nyata, bagaimana para pedagang lebih berperan aktif menjaga kebersihan.
Peribahasa itu juga dipakai oleh pemerintah sebagai slogan himbauan untuk mencegah kejadian terkena penyakit yang bermula dari awal kebersihan yang baik dan benar. Dengan peribahasa ini pula pemerintah berusaha menanamkan bahwa pencegahan itu lebih baik dari mengobati, bagaimana mengobati itu akan malah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.
Peran seperti ini contohnya ketika H. Alimudin Umar, S.H. menjadi Wali Kota Tanjungkarang dan Telukbetung, terpampang di pinggir Jalan Teuku Umar poster berbunyi: 'Keep Clean Your City'. Pada masa Drs. H. Nurdin Muhayat, berbagai perempatan jalan banyak dipasangi poster dengan huruf Arab berbunyi: annazhofatu minal iman (kebersihan itu bagian dari iman). Di bawah kalimat itu, ditulis maknanya dalam huruf Lampung. Barangkali supaya orang Lampung mau lebih berperan memelopori kegiatan bagi keberhasilan Kotamadya Bandar Lampung. Di tangan Drs. H. Eddy Sutrisno, M.Pd., semboyan 'Ayo Bersih-Bersih' begitu gencar dikumandangkan, baik dalam bentuk poster dan pamflet maupun tidak. Kata 'bersih' dua kali digunakan pada kalimat ajakan tersebut. Boleh jadi agar masyarakat terus-menerus membersihkan lingkungan tempat tinggal dan seluruh kotanya dengan target bersih lahir dan bersih batin bagi seluruh warga kota (Copyright © 2003 Lampung Post).


Gambar ini diambil di jalan Kaliurang Km 6. Tampak alat-alat kebersihan dan lingkungan lapak kosong yang bersih saat tidak digunakan pada siang hari.

Kesimpulan : partisipasi para pedagang makanan jalanan dalam menjaga kebersihan harus tetap dijaga supaya dapat mengurangi tingkat kejadian terkena penyakit.

Rekomendasi : kepada pemerintah kota dan dinas sosial hendaknya memberikan semacam penghargaan kepada penjual makanan jalanan yang berperilaku bersih, misalnya dengan memberikan bantuan modal atau potongan bunga pinjaman bank yang besar supaya para pedagang dapat berperan lebih aktif menciptakan terwujudnya lingkungan kebersihan yang menyeluruh.


Mau makan di warungku? Langkahi dulu sampahku....

Tidak sedikit para penjual makanan jalanan membuang sampah di tempat yang tidak semestinya, beberapa bahkan mungkin banyak dari para penjual itu yang menumpuk sampah (disposal) di tempat seadanya, bisa saja di depan tempat mereka berjualan.
Sampah yang menumpuk akan mengalami pembusukan, mengeluarkan komponen senyawa gas Nitrogen yang bisa membuat orang menutup hidungnya. Binatang yang tertarik akan bau-bauan tersebut dan lazim kita jumpai di sekitar tumpukan sampah adalah lalat, binatang yang terkenal karena "kejorokannya'. Mengapa dikatakan demikian adalah karena kebiasaannya yang sering bolak-balik hinggap dari tempat kotor ke tempat yang bersih, misalnya dari tumpukan sampah ke makanan yang dihidangkan.
Lalat juga merupakan vektor bakteri, di buku-buku kaki dari lalat dapat menempel bakteri seperti Salmonella, Amoeba, dan Flagellata. Pada umumnya bakteri-bakteri itu berasal dari tempat-tempat yang mempunyai kondisi seperti suhu, kelembaban dan keasaman yang sesuai untuk perkembangbiakannya. Kondisi seperti ini diantaranya terdapat di rawa-rawa, genangan air got, tumpukan sampah zat sisa makanan, dan makanan yang kadaluarsa.
Contoh penyakit yang disebabkan oleh bakteri adalah demam tifoid. Demam tifoid disebabkan oleh Salmonella typhosa yang dapat menetap dan berkembang biak di plaque Peyeri mukosa usus halus manusia. Proses penyebarannya ialah melalui makanan yang terkontaminasi Salmonella typhosa yang dibawa oleh lalat.
Pada Juli 2006, wabah deman tifoid menyerang warga Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah, sekitar 40 kilometer dari Palu. Sepekan terakhir, penyakit itu menjangkiti lebih dari 100 warga Desa Limboro, Kecamatan Banawa, Donggala. Puluhan warga Desa Limboro yang terkena sebagian besar adalah balita dan anak-anak berumur 1-10 tahun. (Copyright 2006 Kompas Group)



Gambar diambil di salah satu kompleks pasar di dekat kampus UGM, di sana tampak warung berjajar-jajar dengan sistem disposal yang serupa.

Kesimpulan : Sampah yang menumpuk dapat menjadi agen penyebaran penyakit yang pada akhirnya akan merugikan kesehatan masyarakat.

Rekomendasi : Sebaiknya sistem disposal dari para penjual makanan jalanan dibuat jauh dari lokasi dimana makanan dihidangkan. Pihak pemerintah kota maupun dinas kebersihan terkait sudah semestinya memperhatikan masalah ini dan setidaknya membantu membuatkan pusat pembuangan sampah yang jauh dari tempat mereka berjualan namun masih dapat terjangkau.